5+ Sarana Budidaya Tanaman Pangan

1. Lahan Budidaya Tanaman Pangan.

5+ Fasilitas Budidaya Tanaman Pangan

sebuah. Varietas yang dipilih untuk ditanam adalah varietas unggul atau varietas yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian.

b. Benih tersebut disesuaikan dengan agroekosistem budidaya serta memiliki sertifikat dan label yang jelas (nama, potensi tumbuh, tempat asal dan tanggal kadaluarsa), serta berasal dari perusahaan atau penangkar terdaftar.

c. Bibit harus sehat, bervogor baik, tidak membawa dan atau menularkan organisme pengganggu tanaman (OPT) di lokasi usaha produksi.

d. Jika perlu, sebelum tanam diberikan perlakuan (seed treatment).

Tanaman pangan dari kelompok serealia dan legum diperbanyak dengan menggunakan biji, sedangkan tanaman umbi-umbian diperbanyak dengan stek. Biji adalah biji sebagai bagian tumbuhan yang tumbuh kembali yang digunakan sebagai bahan tanam, sedangkan stek adalah bagian vegetatif tumbuhan yang digunakan sebagai bahan perbanyakan tumbuhan. Setiap benih yang digunakan harus bermutu baik yang meliputi mutu fisik, fisiologis dan genetik serta harus diketahui nama varietasnya.

3. Pupuk Budidaya Tanaman Pangan.

Pemupukan harus diusahakan agar dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya dan dampak yang sekecil-kecilnya, serta memenuhi 5 (lima) syarat yang tepat, yaitu:

  • tipe yang tepat,
  • kualitas yang tepat,
  • tepat waktu,
  • dosis yang tepat, dan
  • persis bagaimana menerapkan.
5+ Fasilitas Budidaya Tanaman Pangan

sebuah. Jenis yang sesuai yaitu pupuk yang mengandung unsur hara makro atau mikro sesuai dengan kebutuhan tanaman, dengan memperhatikan kondisi kesuburan tanah

b. Kualitas tepat guna, yaitu menggunakan pupuk yang berkualitas baik, sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

c. Tepat waktu, yaitu diaplikasikan atau diaplikasikan pada tanaman sesuai kebutuhan, stadia tubuh tanaman, dan kondisi lapangan yang sesuai.

d. Dosis Tepat, yaitu jumlah atau dosis yang diberikan sesuai dengan rekomendasi atau rekomendasi spesifik lokasi, dan

e. Cara aplikasi yang tepat, yaitu disesuaikan dengan jenis pupuk, tanaman dan kondisi lapangan.

Ada juga beberapa standar yang harus dipenuhi terkait penggunaan pupuk, yaitu sebagai berikut.

sebuah. Informasi ketersediaan pupuk.

– Usaha stok pupuk di setiap daerah selalu diupdate dan diinformasikan kepada pihak terkait untuk pembinaan lebih lanjut di tempat usaha produksi tanaman pangan.

– Dinas Pertanian setempat harus berkoordinasi dengan produsen pupuk sebagai penanggung jawab pengamanan ketersediaan pupuk dengan menginformasikan lokasi dan jadwal masing-masing wilayah.

b. Persiapan pupuk.

– Tempat penyimpanan pupuk harus bersih, aman, kering, dan di tempat tertutup serta tidak digabungkan dengan penyimpanan pestisida atau stok benih dan produk segar.

c. Komposisi.

Petani dan penyuluh pertanian sangat dianjurkan untuk memiliki keahlian dalam pemupukan dan pemupukan dan penerapan cara pemupukan harus mengacu pada rekomendasi penyuluh yang ahli di bidangnya.

d. Rekaman.

– Pencatatan tidak hanya untuk penggunaan pupuk, tetapi juga untuk semua kegiatan usahatani sehingga diketahui pencapaian pendapatan petani.

– Semua penggunaan pupuk sangat dianjurkan untuk dicatat dengan mencantumkan lokasi, tanggal penggunaan, jenis pupuk, jumlah pupuk, dan cara pemupukan.

– Khusus untuk pupuk sangat dianjurkan bagi petani untuk menyimpan struk pembelian pupuk dari kios yang bersangkutan, sebagai antisipasi peredaran pupuk palsu.

4. Perlindungan Tanaman.

Perlindungan tanaman dilakukan pada masa pra tanam, pertumbuhan dan pasca panen, sesuai kebutuhan. Perlindungan tanaman harus dilakukan sesuai dengan sistem pengendalian hama terpadu (PHT), dengan menggunakan sarana dan metode yang tidak mengganggu lingkungan.

standar pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

sebuah. Tindakan pengendalian hama dilakukan seperti yang direkomendasikan. Penggunaan pestisida merupakan alternatif terakhir jika cara lain dianggap tidak berhasil.

b. Tindakan pengendalian hama dilakukan berdasarkan hasil pengamatan hama dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan terjadinya serangan hama.

c. Penggunaan sarana pengendalian hama (pestisida, agen hayati, serta alat dan mesin), dilakukan sesuai dengan rekomendasi standar dan dalam penerapannya telah mendapat bimbingan atau pelatihan dari penyuluh pertanian atau ahli di bidangnya.

d. Dalam penggunaan pestisida oleh petani, petani harus sudah mendapatkan pelatihan.

Pestisida adalah pengendalian hama yang secara langsung dapat menyebabkan penurunan hasil dan kualitas tanaman baik secara langsung maupun tidak langsung, tetapi efektif terhadap hama yang menyerang.

Penyimpanan pestisida juga harus memenuhi persyaratan standar sebagai berikut.

sebuah. Pestisida disimpan di tempat yang baik dan aman, berventilasi, dan tidak tercampur atau tercampur dengan bahan lain.

b. Harus memiliki atau memiliki fasilitas yang memadai untuk mengukur dan mencampur pestisida

c. Area penyimpanan harus mampu menahan tumpahan, antara lain untuk mencegah kontaminasi air.

d. Memiliki fasilitas untuk mengantisipasi keadaan darurat, seperti tempat cuci mata dan bagian tubuh lainnya, persediaan air yang cukup, pasir yang digunakan untuk mengantisipasi kontaminasi atau kebocoran.

e. Akses ke tempat penyimpanan pestisida terbatas pada pemegang kunci yang telah mendapatkan pelatihan.

f. Memiliki pedoman atau tata cara penanganan kecelakaan akibat keracunan pestisida yang terletak di lokasi yang mudah dijangkau seperti di dinding sekitar tempat penyimpanan pestisida.

g. Memiliki catatan pestisida yang disimpan.

h. Semua pestisida harus disimpan dalam kemasan aslinya.

saya. Rambu atau rambu peringatan potensi bahaya pestisida ditempatkan di pintu masuk.

5. Pengairan Budidaya Tanaman Pangan.

Disarankan agar setiap budidaya tanaman pangan harus didukung dengan sistem irigasi yang sesuai dengan kebutuhan dan peruntukannya. Air yang digunakan harus tersedia sepanjang tahun, baik dari hujan, tanah, embun, tondon, bendungan, atau sistem irigasi.

Air irigasi yang digunakan harus memenuhi kualitas air irigasi, dan tidak menggunakan air limbah berbahaya dan demikian pula penggunaan air pada proses pasca panen dan pengolahan tanaman pangan harus sehat.

Irigasi tidak boleh mengakibatkan erosi tanah atau pencucian unsur hara, pencemaran tanah oleh bahan berbahaya, dan keracunan bagi tanaman dan lingkungan sekitarnya. Kegiatan irigasi harus dicatat sebagai bahan dokumentasi. Penggunaan alat dan mesin pertanian untuk irigasi harus memenuhi ketentuan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan dapat diterima oleh masyarakat.

Demikian penjelasan singkat diatas dan terima kasih.

Baca :  Jenis –Jenis Kemasan Pangan, Kelebihan, Kekurangan dan Materialnya